20.11.2011
Beribu-ribu penjelasan kadang tidak bisa membuat nalar manusia menerima, karena manusia juga punya hati. Apapun itu yang terjadi terima saja, meskipun kadang kita tidak bisa menerima.
Sedih juga bukan masalah, bahkan tidak ada kata yang lebih tepat jika bukan “lebih dari sedih”. Kaget, kecewa, atau apalah namanya saya juga ga tahu. Satu hal yang pasti saya belum siap menerima kehilangan.
Ada teman yang bilang, “orang baik kayak kita gini bisa jadi goblok klo di goblok2in sama cinta!”. Saya rasa itu benar, karena dari dulu saya mencintai tanpa syarat dan tanpa batas kendala apapun. Lalu dimana salahnya?
Salahnya adalah kita kadang tidak mempertimbangkan resiko yang ada. Kita sudah menuntun ke jalan yang benar tapi tetap yang dituntun ke jalan yang salah, kita sudah berhati-hati dalam menyetir tapi masih tertabrak juga. Memuat semuanya yang diharapkan manusia, memangnya saya ini nabi yang sempurna??
Jatuh bangun mempertahankan ini, dari keringat, darah, air mata yang jatuh ke tanah. Dan sayangnya itu tidaklah cukup dan yang telah berjuang itu hanya di bilang “membosankan”.
Apa yang ada sekarang sudah jadi bubur belaka, dia yang saya harapkan ternyata sudah berubah, tidak ada hasrat, tidak ada cinta, katanya jenuh karena saya diam, katanya bosan karena tidak mendengarkan.
Sekarang saya pun tidak tahu harus berbuat apa? Apa yang telah saya lakukan untuk itu, ternyata hanya sementara dimatamu.
Berlarilah sesukamu, berlarilah.
Bermainlah sesenangmu, bermainlah.
Terakhir saya sampaikan, harapan itu masih ada…
Cried all night ’til there was nothin’ more
What use am I as a heap on the floor?
Human Devotion but its just no good
taking it hard just like you know i would
_She and Him – Sentimental Heart_
mereka
Saat yg sama sudah tidak lagi sama. Mereka yg seharusnya dirumah. Sekarang sudah pindah. Untuk sementara saja. Tp tetap saja aku rindu mereka yg tertawa menemani anak-anaknya menonton tv di minggu pagi.
Mereka tidak butuh apa-apa, kadang hanya doa dan ucapan “yang sabar ya” tiap kali ada kawan atau saudara yang menjenguk. Sesekali mereka tersenyum.
Tersenyum simpul.
Aku hanya perantara saja. Saat mereka butuh sarapan pagi atau hanya sekedar menebus resep dokter yang kadang diberi jam 10 malam. Aku hanya bisa itu.
Kadang dirasa capek sekali hingga untuk mengeluh saja pun susah. Meminta pun segan. Tapi melihat mereka yang semangat ingin sembuh dan mereka yang setia saling mengusap meski yang satu hanya bisa terbaring. Aku pun terus semangat.
Terimakasih untuk mereka yang mengajarkan arti hidup, arti kesetiaan dan kesederhanaan yang tidak mengenal waktu.
Mereka adalah Ayah dan Ibu..
*ditulis di hari ke-4 di ruang ICU RS. Dharmais
Genggaman
Apapun itu yang menjadi landasan atas nama cinta. Entah mengucapkan kata “belajar” atau berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Semua hal itu membuat sebuah pengharapan. Pengharapan yang besar.
Apapun itu namanya atas dasar cinta, seharusnya kesalahan yang sama tidak boleh diulangi lagi. Perihal kesalahan yang dulunya membuat kita, iya kita menjadi tidak berhubungan lagi.
Kalau dirasa untuk memberitahu saja sulit, membuat hatiku membuat nyaman pun juga susah, maka aku harus berharap kepada siapa? Ini untuk kesekian kali kamu tidak ada kabar sayangku? Kesekian kali. Dan aku muak bukan kepalang. Dimana usahamu untuk memperbaiki itu? Jenggah.
Sudah seminggu ini kepalaku di penuhi sesak dengan berbagai masalah yang tidak kunjung selesai. Entah dengan keluarga yang sakit, atau diriku yang juga sakit. Hanya saja, aku tidak pantas mengeluhkan itu. Lalu aku harus bercerita kesiapa?
Semua tuntutan datang karena ada harapan. Harapan akan kita yang masi muda ini untuk belajar. Belajar memaknai sebuah hubungan. Menghargai aku, menghargai kamu dan menghargai waktu. Waktu yang selalu berdetak ke kanan dan tidak pernah ke kiri.
Tidak perlu kamu bersedih hati, karena aku rasa kamu memang tidak akan pernah bersedih apabila saya marah. Emosi pun masi dibalas dengan emosi lagi yang tidak akan pernah habis dan selesai. Hingga mati.
Jadi lebih baik diam agar cinta ini bertahan daripada marah tapi dirimu lepas dalam genggaman?
Lalu apa kamu pantas untuk selalu dalam genggaman?
sedih itu adalah..
Sedih itu adalah saat kamu belajar untuk menyelamatkan tapi tidak bisa apa-apa
Sedih itu adalah saat dia membutuhkanmu tapi kamu tidak ada disana
Sedih itu adalah saat kamu berusaha, tapi tidak kunjung selesai dan tak berujung
Sedih itu adalah saat kamu tahu, tapi tidak ada yang pernah memberi tahumu
Sedih itu adalah harapan yang berlebihan
Saat harus melepasmu, saat harus meninggalkanmu entah apa yang terbayang. Bahkan suara ramai pun tak bisa menyelamatkan.
Tatapan kosong menerawang, tangan mengadah ke atas, hanya bisa berdoa.
Berdoa agar kamu selalu baik-baik saja…
kerikil
Mungkin kalau bisa saya jelaskan dan mengembalikan waktu untuknya maka saya pun berharap begitu adanya.
Mungkin kalau saya bisa mencintaimu sepenuh hati maka saya pun juga ingin mengulanginya.
Tapi bagaimana dengan kamu sayangku?? Apakah kamu juga akan begitu?
Kalau tahu begini aku pun tidak akan berusaha sekeras ini. Belum pernah saya berusaha hingga diambang 110% sayangku. Belum pernah.
Hujan yang deras, debu yang pekat tak lagi soal. itu sudah biasa.
akhirnya saya memberanikan diri untuk bertemumu lagi, ternyata kamu belum berubah, masih sama saja. masi ada sesuatu yang tergeletak di atas meja yang saya tidak berani melihatnya.
Saya tau kondisi yang ada membuat keadaan menjadi sulit dan semakin sulit. Mereka yang engkau selalu dahulukan, selalu dan selalu.
Apa kamu sadar akan hal itu? Saya cuma fakir miskin yang tidak punya apa-apa yang tak tahu seperti apa kamu sebenarnya. Bahkan setahun bergulir pun saya masih mengira-ngira, hingga suatu kejadian itu membuka mata seutuhnya.
Saya tau saya bukan apa-apa, bukan sesuatu apalagi seseorang. Bukan kenangan apalagi sebuah keindahan. Bukan sayangku,
Saya
Cuma
Kerikil
Aku Tidak Tahu
Tidak ada keadaan yang ingin mendekatiku begini, tidak ada satupun yang mau. Keadaan yang lemah tanpamu, lemas tanpa dengar semangatmu, dan sekarat tanpa pegangan dengan jarimu.
Aku tau aku tidak bisa lagi, bisa lagi dengan itu karena aku sendiri yang menentukan itu. Kenapa? Karena waktu yang telah mempercundangi aku untuk kesekian kali. Dan aku tersiksa sayangku.
Aku berharap aku tidak tau apa-apa, tapi aku tidak bisa, sungguh tidak bisa. Aku rindu kamu, tapi aku tidak tahu harus mulai darimana. Aku tidak tahu.
Aku tidak tahu harus menyelamatkan mu darimana, aku tidak tahu harus menolongnmu dari apa? Karena apa yang kamu anggap salah, terlhat jelas benar di matamu, meskipun aku tau dari lubuk hatimu yang paling dalam, hal itu semua salah. Salah semuanya.
Aku sayang ibu mu, karena aku pikir, dia akan jadi ibuku nanti.
Ibu kedua ku yang tidak akan aku beda-bedakan kasih dan sayangnya.
Saat yang sepi, saat yang berapi-api, sekarang menjadi saat yang sama saja, flat, datar atau apalah namanya. Aku tidak tau mau kemana semangat mencari nafkahku, aku juga tidak tahu kemana arah larinya nafas tersenggal-senggal karena capai bekerja tiap harinya.
Apakah engkau sakit sayangku?
Apakah engkau baik-baik saja tanpaku?
Bagaimana dengan berat badan mu? Bagaimana kabar kucing piaraan mu?
Apakah kamu masi sering bernyanyi? Menyanyikan lagu yang biasa kita nyanyikan?
Aku tidak tahu, aku hanya tidak tahu sayangku…
maaf..
Kalau saja aku tidak pernah bertemu dengan engkau, mungkin akan lain hasilnya
Tapi aku tidak perduli
Kalau saja aku tidak pernah berbicara dengan engkau, mungkin kita tidak pernah akan bertemu
Tapi aku bersyukur dengan itu
Apa selama ini berhalusinasi saja tanpa ada yang bisa dimaknakan dan berharap semua baik-baik saja? Kan sudah ku bilang untuk tidak mengulanginya lagi,lagi, dan kembali lagi untuk tidak diulangi?
Apa kita sudah coba mengerti untuk dimana waktu untuk disanjung dan kapan waktu untuk menghardik? Kapan waktu untuk berpegangan tangan dan kapan waktu untuk berkeluh kesah?
Biar saja yang kemarin itu, biar saja..
Untuk saat ini aku memang tidak peduli, begitu juga dengan kamu. Aku rasa..
Saya akui saya gagal, gagal dalam membangun jembatan itu, iya jembatan menuju kebahagiaan yang eternal. Bukan kamu yang gagal, apalagi kita, cukup saya saja.
Setidaknya saya sudah mencoba, jadi tidak akan berat sebelah antara keinginan dan kenyataan, meskipun keadaan yang selalu berputar-putar, berlomba-lomba, dan hingga selalu ada satu pemenang, yaitu selalu kamu.
Maaf..
Kata
Hitung nafas yang kelak berat
Kau ‘kan sakit dan pergi
Tanpa waktu yang pasti
Selamanya, selamanya
Melawan hati yang tak pernah padam
Akan hilang..
Ucapkan maaf
Dan kau pun ‘kan tetap disini
Selamanya, selamanya





